Milenial dan Kecanduan Media Sosial

Milenial dan Kecanduan Media Sosial

whtsup.net – Era media sosial telah menyebar merata di antara masyarakat Indonesia. Hal ini didukung dengan makin murahnya harga paket internet dan meluasnya jaringan operator di seluruh Indonesia dan berdampak positif dan negative tentunya. Berada di era teknologi saat ini, tidak mungkin jika kita tidak ikut putaran arus media sosial. Karena terbukti media sosial membantu menyingkat waktu berkomunikasi dan mempermudah penyebaran informasi.

Namun sayangnya, kemudahan akses teknologi ini telah membuat kecanduan jenis baru yaitu kecanduan teknologi. Tidak hanya orang dewasa, remaja yang lahir tahun 2000an dan lebih dikenal dengan generasi milenial mengalami tingkat kecanduan yang parah. Karena pada masa mereka teknologi mengalami kemajuan yang sangat pesat.

Lingkungan ini sendiri sudah semakin meluas, karena tidak lagi dibatasi oleh sekat geografis seperti dulu. Saat ini milenial dapat berkomunikasi dengan orang di belahan dunia lain jika memahami bahasa Inggris.

Aplikasi yang biasa digunakan generasi milenial dalam menghabiskan waktunya adalah, Facebook, Instagram, Whatsapp, Twitter, Snapchat dan beberapa aplikasi foto yang menunjang hobi selfi mereka. Pihak operator memfasilitasi tren ini dengan menyediakan paket data bundling media sosial dengan harga yang terjangkau bagi remaja yang masih mengandalkan keuangan dari orang tua.

Beberarapa perubahan yang dapat diamati dari remaja milenial akibat kecanduan sosial media antara lain:

  1. Perubahan pola sosial

Saat ini generasi milenial lebih banyak berinteraksi dengan smartphone daripada lingkungan sekitar mereka. Hal ini bisa dikarenakan lingkungan keluarga yang sibuk dengan urusannya masing-masing hingga ke lingkungan teman yang tidak menerima dirinya. Dengan aplikasi media sosial, remaja ini dapat mengisi kekosongan dirinya dan kebutuhan untuk bersosialisasi dengan orang-orang yang tidak dikenalnya dan mengenalnya. Penerimaan membuatnya merasa nyaman sehingga rentan untuk dimanfaatkan.

  1. Perubahan pola komunikasi

Dengan lebih banyak berhubungan di media sosial, remaja cenderung pasif dengan orang=orang di sekitarnya. Bahkan gaya komunikasinya pun telah berubah. Kita melihat kebebasan gaya berkomunikasi yang salah kaprah membuat kemunduran etika dan adab dalam berkomunikasi. Sehingga di dunia nyata, kebiasaan ini pun terbawa dan membuat salah paham yang terus berlanjut. Dan sang remaja akan kembali larut di dunia media sosial yang menerimanya disbanding dunia nyata.

  1. Perubahan pola tidur

Aplikasi media sosial tidak memiliki batas waktu. Kapan pun dan di mana pun bisa diakses selama masih terhubung dengan internet. Hal ini tentu saja berdampak pada pola kehidupan sehari-hari sang remaja terutama pola tidur. Karena pada waktu malam, aplikasi ini banyak diakses orang lain sehingga aplikasi yang dituju lebih ‘hidup’ dengan online nya para member aplikasi tersebut. Tidur yang kurang dan waktu yang tidak disiplin biasanya berdampak pada kegiatan sekolah. Bahkan beberapa remaja memilih tidak sekolah karena menganggap media sosial lebih menyenangkan daripada bertemu guru dan menghadapi kewajiban belajar dengan segala tuntutannya.

Baca juga : Tips Bermedia Sosial untuk Generasi Milenial

Jenis penyakit kecanduan ini memang tidak merusak fisik secara langsung, namun mental mereka telah tersandera dengan keasyikan berkomunikasi dengan teman-teman dunia maya mereka. Dengan mengganggap teman-teman ini real, maka kebalikannya, remaja milenial akan melihat lingkungan nyata mereka seperti kamuflase. Dan menghilangkan peran-peran sosial mereka dengan larut di dalam dunia khayal yang bisa mereka bangun. Dampaknya, jika ada ketidakpuasan di dunia maya milenial ini, mereka tidak akan meminta bantuan pada lingkungan sekitar karena menganggap lingkungan dan keluarga tidak nyata dan terlibat secara emosional.